sudah lama nian agaknya blog ini terbengkalai. Tanpa tulisan ataupun berita sebagaimana mestinya. Dua atau tiga tahun ini adalah masa yang sulit. Paceklik ide dan juga semangat. keduanya seakan hilang ditelan oleh waktu, rutinitas, atau apalah yang jarang kupahami. Seringkali ku berkata pada diri sendiri, bahwa tugasku adalah menulis. Bahwa tugasku adalah menuang gagasan. Bahwa tugasku adalah berbagi. Namun hal itu, dialog-dialog itu tidak mampu memapah hati untuk berdiri tegak dan berlari.
Semakin hari, langkah semakin terserak. Semakin berat untuk melangkah. Semakin berat dan takut untuk mengayuh biduk menuju hari demi hari yang akan datang. Mungkin karena sudah lama tertidur, hingga berat
rasanya untuk membuka mata dan terbangun dari mimpi. Menenggak kenyataan yang terpampang jelas di depan mata.
Tidak jarang pula, rasa sesal menggelayut tatkala melihat masa yang telah lalu. Menyesalkan berbagai hal yang tidak bisa kuselesalaikan. Berbagai hal tentang cinta, kesempatan dan banyak lainnya yang tak bisa teraih. Dan juga hal atas kesalahan yang pernah dilakukan dan terjadi.
Sudah sekian kali pula kucoba untuk meniupkan titik-titik api semangat agar kembali membesar. Sesaat, ia menyulut dan membesar. Menerangi dan memberi panas ruang kosong nan gelap. Tapi tak berapa lama, ia pun padam. Aku sadar, bahwa untuk tetap menjaga nyalanya tetap tinggi, terang dan panas, api membutuhkan sesuatu untuk dibakar. Membutuhkan bahan bakar. Dan bahan bakar itu adalah mimpi serta konsistensi. Tanpa keduanya, mustahil api itu akan bertahan cukup lama. Bila hanya mimpi, tanpa konsistensi, hal yang terjadi adalah kita menjelma menjadi penkhyal, pemimpi semata. Bila mimpi tidak ada, maka itu artinya membuat konsistensi kita kering akan makna. Tanpa makna, dan perlahan akan hilang dan lenyap begitu saja.
Mimpi adalah apa yang kita inginkan. Usaha atau ikhtiar adalah merupakan jalan yang harus kita tapak. Sedangkan konsistensi adalah kesetiaan pada proses, ikhtiar untuk menjalani setiap episode demi episode yang harus dijalani.
Akan senantiasa terasa berat dalam etape-etape pertama. Tidak akan pernah mudah untuk memulai hal yang baru, atau melanjutkan kembali sesuatu yang sudah lama terhenti. Perlu adanya mainframe yang baru, atau menghidupkan kembali paradigma yang sudah lama mati. Untuk bisa hidup kembali dan menjadi nyawa. Perlu adanya harapan, agar nafas-nafas tersambung. Tidak terhenti.
Kawan, kau hanya perlu konsistensi. Karena mimpi demi mimpi telah kau rangkai. Karena peta jalan telah kau miliki. Kalaupun tidak, setidaknya kau telah memiliki tekad dan sumpah untuk melewati semuanya. Apapaun yang terjadi, apapun yang harus dialami, dan melakukan pengorbanan. Apapun itu bentuknya.
Kau perlu konsistensi untuk membuat nafas-nafasmu menjadi panjang. Tidak mudah tersengal dalam etape yang mendaki. Kau butuh konsistensi, agar kau tetap bisa bernafas tatkala kau berlari mengejar dan mengeja semua mimpi.
Kau tahu itu kawan. Kau sangat tahu.
Semakin hari, langkah semakin terserak. Semakin berat untuk melangkah. Semakin berat dan takut untuk mengayuh biduk menuju hari demi hari yang akan datang. Mungkin karena sudah lama tertidur, hingga berat
rasanya untuk membuka mata dan terbangun dari mimpi. Menenggak kenyataan yang terpampang jelas di depan mata.
Tidak jarang pula, rasa sesal menggelayut tatkala melihat masa yang telah lalu. Menyesalkan berbagai hal yang tidak bisa kuselesalaikan. Berbagai hal tentang cinta, kesempatan dan banyak lainnya yang tak bisa teraih. Dan juga hal atas kesalahan yang pernah dilakukan dan terjadi.
Sudah sekian kali pula kucoba untuk meniupkan titik-titik api semangat agar kembali membesar. Sesaat, ia menyulut dan membesar. Menerangi dan memberi panas ruang kosong nan gelap. Tapi tak berapa lama, ia pun padam. Aku sadar, bahwa untuk tetap menjaga nyalanya tetap tinggi, terang dan panas, api membutuhkan sesuatu untuk dibakar. Membutuhkan bahan bakar. Dan bahan bakar itu adalah mimpi serta konsistensi. Tanpa keduanya, mustahil api itu akan bertahan cukup lama. Bila hanya mimpi, tanpa konsistensi, hal yang terjadi adalah kita menjelma menjadi penkhyal, pemimpi semata. Bila mimpi tidak ada, maka itu artinya membuat konsistensi kita kering akan makna. Tanpa makna, dan perlahan akan hilang dan lenyap begitu saja.
Mimpi adalah apa yang kita inginkan. Usaha atau ikhtiar adalah merupakan jalan yang harus kita tapak. Sedangkan konsistensi adalah kesetiaan pada proses, ikhtiar untuk menjalani setiap episode demi episode yang harus dijalani.
Akan senantiasa terasa berat dalam etape-etape pertama. Tidak akan pernah mudah untuk memulai hal yang baru, atau melanjutkan kembali sesuatu yang sudah lama terhenti. Perlu adanya mainframe yang baru, atau menghidupkan kembali paradigma yang sudah lama mati. Untuk bisa hidup kembali dan menjadi nyawa. Perlu adanya harapan, agar nafas-nafas tersambung. Tidak terhenti.
Kawan, kau hanya perlu konsistensi. Karena mimpi demi mimpi telah kau rangkai. Karena peta jalan telah kau miliki. Kalaupun tidak, setidaknya kau telah memiliki tekad dan sumpah untuk melewati semuanya. Apapaun yang terjadi, apapun yang harus dialami, dan melakukan pengorbanan. Apapun itu bentuknya.
Kau perlu konsistensi untuk membuat nafas-nafasmu menjadi panjang. Tidak mudah tersengal dalam etape yang mendaki. Kau butuh konsistensi, agar kau tetap bisa bernafas tatkala kau berlari mengejar dan mengeja semua mimpi.
Kau tahu itu kawan. Kau sangat tahu.
Leave a Reply