Positif-Negatif Kemenangan Jokowi

Meski hasil penghitungan resmi PILKADA DKI belum disampaikan oleh KPU, namun hasil perhitungan cepat sudah 'memastikan' kemenangan berada di kubu Kotak-kotak, alias pasangan Jokowi-Ahok. 
Prosentase perolehan suaranya pun berjarak relatif jauh. Rata-rata hasil penghitungan cepat dari berbagai versi menghasilkan angka sekitar 7 persen, antara kubu Foke-Nara dengan Jokowi Ahok.

Sembari menanti hasil resmi dari KPU, marilah kita lihat apa dan bagaimana positif dan negatif keberadaan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Kita lihat positifnya terlebih dahulu.
  1.  Warga Jakarta yang sudah jengah dengan sikap arogan Foke, akan bisa tersenyum riang dengan sikap Jokowi yang Njawani. Tidak arogan, tidak temperamental, malah cenderung bersahabat dan merakyat.
  2. Jokowi dan Ahok dikenal sebagai tokoh yang bersih dari korupsi. Bahkan Jokowi sama sekali tidak menerima gaji selama menjadi Walikota di Solo. Sikap seperti ini masih dibilang ajaib dalam bilangan birokrat di Indonesia yang justru kebanyakan mencari penghidupan dari amanah yang diembannya.
  3. Warga ibukota akan bisa merasakan bagaimana kinerja Jokowi dan Ahok yang dikenal sukses dalam mengelola pemerintahannya di Solo dan Belitung Timur. Yang dalam penilaian banyak pihak dianggap berhasil. Berbekal harapan itu, mereka mengharapkan kesuksesan duet Jokowi-Ahok akan berlaku juga di DKI.
  4. Jokowi dan Ahok, adalah orang yang cerdas dan bisa memetakan masalah. Dengan begitu, diharapkan akan bisa membuat Jakarta menjadi lebih manusiawi dan beradab.
  5. Pemerintahan dan birokrasi yang bersih serta melayani, akan bisa dirasakan oleh warga Jakarta sebagaimana juga telah berjalan di Solo.
Akan tetapi, masih ada pula sisi negatif dari duet kotak-kotak maut ini. Beberapa diantaranya adalah:
  1. Dengan perginya Jokowi ke Jakarta, itu berarti meninggalkan tugasnya sebagai walikota Solo, yang kelak akan dijabat oleh wakilnya saat ini: FX. Hadi Rudyatmo. Dan perlu diketahui bahwa Rudy itu beragam Katholik. Dengan mayoritas penduduk Solo yang Islam, agaknya ini bisa menjadi masalah. Baik itu secara vertikal maupun horizontal. Fakta bahwa orang Islam haram hukumnya dipimpin oleh orang non muslim, akan menjadi sebuah dilema tersendiri bagi orang islam. 
  2. Ahok yang adalah pasangan duet Jokowi, juga beragama kristen. Hal ini menjadi masalah dalam masa kampanye beberapa waktu silam. Rhoma Irama dengan jelas menyebutkan agar jangan memilih pemimpin non muslim. Begitu juga MUI pusat yang juga telah mengeluarkan fatwa haram bagi seorang muslim memilih pemimpin kafir. Hal yang paling ditakutkan adalah, apabila skenario di Solo berlaku di jakarta. Yaitu, Jokowi terpilih sebagai Gubernur dengan Ahok sebagai wakil, untuk kemudian di tengah perjalanan pemerintahannya, mendadak pergi meninggalkan jabatannya. Sehingga akhirnya jabatan itu jatuh ke pangkuan Ahok.  Namun untuk hal ini, Jokowi sendiri telah berjanji bahwa ia akan menyelsaikan amanahnya sebagai Gubernur terpilih, selama lima tahun mendatang. Semoga saja Jokowi tidak dipanggil Tuhan selama memimpin Jakarta.
  3. Jokowi mengaku hanya mengeluarkan dana sebesar 15 Milyar. Angka sebesar itum untuk ukuran PIlkada DKI Jakarta adalah termasuk angka yang sangat kecil namun mustahil. Akan tetapi, saya mengira bahwa angka yang keluar sesungguhnya, dan tidak dari kantong Jokowi, pasti jauh lebih besar dan bahkan bisa dikatakan ulimited. Paling tidak terlihat dari siapa yang berada di belakang Jokowi-Ahok. Beberapa di antaranya adalah  sebagaimana yang kita tahu, yaitu Prabowo, kemudian Edward Suryajaya dan juga terakhir Tommy Winata. Silakan cari di google siapa ketiga orang itu. Dengan begitu, apakah pemerintahan Jokowi akan jauh dari deal-deal politik? Saya menjadi ragu akan hal itu.
  4. Dengan naiknya FX. Rudi sebagai walikota Solo, hal itu bisa mendatangkan kemungkinan  terjadi clash di dalam masyarakat. Sebagaimana diketahui secara umum adalah, Solo merupakan basis pergerakan Islam yang militan, dari dulu hingga sekarang. Dari zaman Pangeran Sambernyawa, HOS. Tjokro Aminoto, sampai Ustadz Abu Bakar Baasyir. Untuk kemungkinan ini, saya berharap ketakutan saya tidak terwujud. 
  5. Dengan perginya Jokowi, dan figuritas Fx. Rudi yang tidak sekuat Jokowi, tidak menutup kemungkinan akan banyak yang mbalelo. Proyek yang tadinya ditolak oleh Jokowi bisa jadi akan tumbuh subur selepas kepergian Jokowi. Kalau Jokowi berbicara bahwa hal itu tidak mungkin terjadi lantaran sudah terbentuk sistemnya, maka hal itu akan kita buktikan. Paling tidak selama dua setengah tahun lagi hingga menjelang awal 2015.
  6. Kondisi Solo yang kian ruwet, macet yang kian menjadi, apakah bisa diatasi oleh Fx. Rudi? Kita lihat saja nanti.
Itulah yang ada di dalam benak saya saat ini. Bila ada koreksi, bantahan, ataupun cacian, silakan. 

Comments

Leave a Reply

Total Pageviews

About

Admin. Powered by Blogger.