Jokowi Kesayangan Media

Baiklah, marilah membahas kembali mengenai profil Gubernur DKI terpilih: Jokowi. Harus diakui, bahwa dua tahun belakangan nama Jokowi semakin mocer di jagat perpolitikan Indonesia. berawal dari keberhasilannya dalam memimpin Solo, kemudian perlawanannya pada Bibit Waluyo selaku Gubernur Jawa Tengah yang ingin membangun mall dan Jokowi bersikeras untuk menghentikan pembangunan mall di Solo untuk memproteksi kelangsungan hidup pasar tradisional, lalu
mensosialisasikan mobil buatan anak-anak SMK yang kemudian diberi nama Esemka.
Dulu, seingat saya, sektar tiga atau empat tahun yang lalu, sangat sulit untuk bisa melihat wajah Jokowi di layar kacar media eletronik nasional. Kini, setelah menjadi Gubernur DKI, sosok Jokowi kian disorot oleh media. Hampir setiap hari, media elektronik atau juga media cetak, mengabarkan perihal apa yang dilakukan Jokowi, sedang blusukan kemana saja, mengunjungi apa saja dan lain sebagainya. Nama Jokowi, serta merta ter-blow up begitu masif di kalangan masyarkat lewat media.Hal itu agaknya wajar, mengingat dia adalah Gubernur Ibukota. Namun, kalau saya tidak salah ingat, porsi yang diberikan media oleh gubernur DKI sebelumnya seperti Foke atau Sutiyoso tidaklah semasif sekarang.
Media memang agaknya sangat sayang kepada Bapak Gubernur ini. Bila di infotainmet itu ada artis, mungkin Jokowi bisa disebut sebagai artisnya televisi berita nasional. Saking sayangnya, media tidak hanya menyoroti perihal kinerja, program kerjanya, atau sikapnya yang santun saja. Bahkan untuk urusan hobi, makanan kesukaan, sampai urusan mebel butut saja tidak luput dari blow up media.Itu baru di skala media nasional, belum lagi yang terjadi di jejering sosial seperti Twitter atau facebook. Nama Jokowi menjadi topik pembicaraan di kedua sotus jejaring sosial tersebut. Hal itu kemudian yang menimbulkan Jokowi effect, dan lewat media sosial juga nama Jokowi berhasil dikampanyekan secara efektif.
Baiklah, bisa jadi itu menjadi pelajaran bagi siapapun yang ingin menjadi pemimpin. Bagaimanapun, saya berkeyakinan bahwa sebagai kepala daerah, Jokowi telah berusaha menjadi apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin. Saya setuju soal itu. 
Saya yakin, banyak kepala daerah yang juga se-amanah Jokowi, yang suka blusukan ke kampung-kampung untuk mengunjungi warganya. Melihat kondisi lapangan secara real, tidak hanya berdasar pada data statistik di atas kertas saja. Seperti salah satu contohnya adalah Gubernur Jabar, Ahmad heryawan yang akrab disapa Aher.
Hanya saja bedanya, kalau Aher belumlah menjadi kesayangan media. Jadi, apa yang dilakukannya tidak mendapat tempat yang layak bagi media. Sehingga, popularitasnya pun tidak se menghebohan Jokowi. Begitu juga di daerah lain. Banyak orang luar biasa yang luput dari pengamatan media. 
Beberapa di antaranya ada yang beruntung, kemudian diangkat dan diundang dalam sebuah acara talkshow seperti Kick Andy.
Jokowi hanyala manusia biasa, dan ia menyadari itu. Mungkin ada baiknya media tidak terlalu membesar-besarkan sosok Jokowi. Agar ekspektasi masyarakat terutama warga DKI tetap logis pada Gubernur mereka yang baru. Biarkanlah ia bekerja dengan tenang tanpa harus dibuntuti oleh media. Media nanti tinggal menunggu hasilnya saja. Apakah akan menjadi semakin baik, atau justru sebaliknya. Jadi, apakah Anda setuju denga judul potingan ini? Wassalam.

Comments

Leave a Reply

Total Pageviews

About

Admin. Powered by Blogger.