Di luar dugaan, untuk Pilpres kali ini hanya menyajikan dua pasangan capres dan cawapres saja. Semua capres yang dijagokan oleh beberapa partai peserta pemilu dengan sendirinya gugur dan hanya menyisakan Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK sebagai pasangan capres-cawapres yang resmi bertarung di pilpres. Pneggalangan partai-partai Islam dan yang berbasis massa islam untuk bersatu dan membentuk poros baru pun tidak sepenuhnya berhasil. Semua partai islam dan berbasis massa islam selain PKB, merapat ke kubu Prabowo-Hatta.
Saya tadinya berharap bahwa akan ada
tiga nama capres dan cawapres sebagaimana pilpres tahun lalu. Alasannya sederhana, agar banyak pilihan bagi rakyat untuk memilih siapa presiden yang akan memimpin bangsa ini lima tahun ke depan.
Nama-nama seperti Abu Rizal Bakri dari Partai Golkar, akhirnya memilih mundur mengingat elektabilitasnya yang tidak mumpuni dan kemudian merapat ke barisan Koalisi Merah Putih Prabowo-Hatta di saat-saat akhir deklarasi pencapresan Prabowo-Hatta.
Beberapa lainnya akhirnya juga gugur dikarenakan tidak mencapai ambang batas untuk mencalonkan presiden. Partai pemenang PDI-P yang tadinya sesumbar akan meraih perolehan suara sebanyak 30%, karena mengharap mantra Jokowi Effect bisa ampuh manjur, nyatanya hanya bisa duduk manis di angka
19%. Sehingga, ambang batas pencalonan presiden yang mensyaratkan minimal perolehan 25% tidak bisa terpenuhi.
Hanura yang sejak awal pede menjadikan Wiranto-HT menjadi capres dan cawapres akhirnya pun harus berakhir. Cerita kemudian berlanjut ke pecah kongsi pasangan tersebut. Wiranto membawa gerbong Hanura ke kandang Banteng, sedangkan HT lebih memilih mendukung Prabowo-Hatta.
PKB yang sejak awal membuat terobosan baru dengan mengajukan tiga nama capres sekaligus, mulai dari Rhoma Irama, Mahfud MD, sampai JK. Nyatanya, terobosan itu berhasil. PKB secara mengejutkan meraih suara hingga lebih dari 9%. Melonjak berkali-kali lipat ketimbang pileg 2005 silam. Karena tidak memenuhi ambng batas, cerita ketiga calon presiden itu berakhir dan PKB merapat ke PDI-P berkoalisi mencalonkan Jokowi menjadi presiden. Cerita berlanjut dengan merapatnya Mahfud MD dan Rhoma Irama ke kubu Prabowo-Hatta, dan JK yang menurut Mahfud tidak pernah bekerja untuk PKB, kemudian dipilih oleh kubu Banteng sebagai Cawapres Jokowi.
PKS yang tadinya menargetkan menjadi 3 besar, akhirnya tetap bertengger di angka 6,9%. Tetap konsisten, meskipun selama setahun terakhir menjelang pileg, serangan kepada PKS sangat luar biasa hebat. Badai telah berlalu, meskipun tidak bisa mencapai target, angka 6,9% itu menunjukkan bahwa PKS tidak mudah diterjang badai. Meskipun banyak kalangan meramal bahwa PKS akan hilang dari parlemen NKRI. Ramalan itu tidak pernah terbukti.
Demokrat pun demikian. Menjelang pemilu, banyak kadernya yang tertangkap KPK. Mulai dari Nazaruddin, Anglina Sondakh, hingga menyeret ketua umumnya, Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng dan terakhir adalah Sutan Batughana dalam kasus suap SKK Migas. Bedanya, suara Partai Demokrat anjlok menjadi hanya sekitar 7%. Padahal sebelumnya di Pileg 2005, demokrat bisa mencapai 20% suara lebih. Konvensi untuk memilih capres dari Partai Demokrat pun berakhir tragis. Demokrat terpecah menjadi dua. Sebagian besar merapat ke kubu Prabowo-Hatta dan beberapa lainnya merapat ke Jokowi-JK.
PAN tidak jauh berbeda. Meski tidak bisa mencalonkan Hatta Rajasa sebagai presiden, setidaknya PAN juga mengalami kenaikan suara di pileg 2014 silam. Cerita kemudian beralih ke pencalonan Hatta Rajasa sebagai cawapres Prabowo Subianto.
PPP meski mengalami kenaikan akan tetapi, selepas pileg PPP sempat pecah. Kedatangan Suryadarma Ali ke kampanye Gerindra, berbuntut pada protes para anggota partai yang menilai bahwa apa yang dilakukan oleh SDA itu telah menjatuhkan harkat dan martabat partai. Konsolidasi pun dilakukan, islah dilakukan, dan perdamaian pun bisa terjalin kembali. Akan tetapi badai belum berlalu, Pasca islah, SDA ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka kasus korupsi haji tahun 2012.
Gerindra tampil mengejutkan. naik berkali-kali lipat ke angka 11%. Gerindra tetap memajukan Prabowo sebagai capres. Gerindra mulai bergerilya, mengajak partai-partai yang ada untuk berkoalisi. Gayung bersambut. PAN, PPP, PKS, Golkar, PBB bergabung. Hatta Rajasa dipilih sebagai cawapresnya. Dengan nama Koalisi Merah Putih, Prabowo-Hatta ingin menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang bermartabat, memiliki harga diri dan dihormati oleh bangsa lain.
Di sisi lain, Jokowi-JK tampil dengan didukung oleh PDI-P, Nasdem, PKB dan juga PKPI. Majunya JK sebagai cawapres pun menghadirkan banyak kisah tersembunyi. Jokowi langsung bergerak menyambangi beberapa partai, kecuali PKS dan Gerindra, untuk mencari tambahan suara demi memuluskan langkahnya untuk maju sebagai capres. Karena perolehan suara PDI-P di luar dugaan. Jokowi efek yang ketika itu diharapkan bisa mengatrol perolehan suara ke angka lebih dari 30%, akhirnya tidak sebagaimana yang diharapkan.
Nasdem sebagai partai yang pertama didatangi, dengan segera dan spontan menerima ajakan Jokowi untuk berkoalisi. Menyusul kemudian PKB dan PKPI, yang meskipun tidak lolos ke senayan, akan tetapi paling tidak perolehan suaranya bisa menambah persentase capres yang diajukan PDI-P.
Kini, hanya tersisa Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK sebagai capres dan cawapres. Pemilihan nomer urut sudh dilakukan. Prabowo-Hatta mendapatkan nomor urut satu, dan Jokowi-JK mendapatkan nomor urut dua. Pemilihan presiden baru Indonesia akan dilakukan pada tanggal 9 Juli 2014. Pilihlah dengan akal sehat. Lihat bagimana visi dan misi masing-masing calon. Salah satu dari pasangan itu bisa dipastikan akan memimpin Indonesia selama kurun waktu 5 tahun ke depan. Kecuali apabila terjadi force majure, yang memaksakan pemilu untuk ditunda atau ditiadakan sama sekali. Salam.

Leave a Reply