Pesantren dan Paradigma Tempat Sampah

Maaf bila judul di atas terkesan kasar. Hanya saja, itulah kenyataan yang ada. Bagaimana paradigma beberapa kalangan masyarakat tentang pesantren yang (masih) dianggap tempat sampah. Dianggap sebagai tempat anak-anak bermasalah.
Pesantren adalah sama dengan lembaga pendidikan yang lain seperti sekolah. Pesantren adalah tempat untuk mendidik anak-anak didik mereka menjadi manusia yang lebih baik, berkepribadian, berpengatahuan, dan memiliki skill serta kemandirian.
Secara kualitas, pendidikan di pesantren jauh lebih baik ketimbang sekolah reguler yang hanya mulai dari pagi, dan maksimal sampai sore. Di pesantren
, pendidikan seorang anak diberlakukan selama 24 jam penuh. Ini bukan pekerjaan mudah. Dan juga, para pengajar di pesantren harus mengorbankan waktu mereka lebih banyak untuk mengabdi di pesantren. Siswa lulusan pesantren umumnya memiliki tingkat kemandirian lebih baik ketimbang siswa lulusan sekolah umum.
Meski demikian, lulusan pesantren masih dipandang sebelah mata oleh beberapa kalangan masyarakat. Mereka masih menganggap bahwa lulusan pesantren itu adalah siswa yang terbelakang dan hanya tahu soal ngaji dan mengaji saja. Mereka dianggap tidak tahu soal ilmu pengetahuan yang banyak digeber di sekolah-sekolah umum.
Paradigma miring masyarakat tidak sampai di situ saja. Ketika ada seseorang berbuat sebuah kenakalan dan ia adalah seorang lulusan pesantren, maka itu akan menimbulkan paradigma negatif selain ke yang bersangkutan juga ke lembaga pendidikan pesantren yang dikenyamnya. Orang pasti berkata dengan nada sinis, "Itu lho lulusan pesantren, kayak gitu...."
Paradigma negatif lainnya adalah, tidak jarang saya mendengar orang tua yang megancam anaknya bahwa kalau anaknya nakal, akan dimasukkan ke dalam pesantren. Inilah yang saya sebut tentang paradigman tempat sampah yang ditujukan ke pesantren.
Sehingga, banyak orang yang beranggapan bahwa dengan dimasukkannya seorang anak ke dalam pesantren, maka secara otomatis ia akan berubah menjadi anak yang baik. Padahal tidak semudah itu. Dan sudah banyak kasus yang menyatakan bahwa bukannya semakin baik, malah anak yang dianggap nakal itu semakin menjadi nakalnya, lebih 'cerdas'. Meski, tidak sedikit pula memang yang kemudian menjadi baik setelah mengenyam pendidikan di pesantren.
Anak-anak yang diancam orang tuanya, apabila nakal akan dimasukkan ke dalam pesantren secara otomatis akan melahirkan paradigma bahwa pondok adalah sebuah penjara yang akan membelenggu kebebasan yang didapatnya selama ini di rumah. 
Maka, ketika ia benar-benar di pesantren, ia akan menganggapnya sebagai arena balas dendam kepada orang tuanya terutama yang ia anggap adalah orang yang paling bertanggung jawab atas hilangnya kebebasan yang selama itu ia dapatkan di rumah. Tak ayal, di pesantren ia anggap sebagai kawah candardimuka untuk mempertajam kenakalannya. Sehingga, tidak heran, selepas dari pesantren kenakalannya semakin menjadi.
Pendidikan seorang anak adalah tanggung jawab sepenuhnya bagi orang tua mereka. Orang tua yang berkewajiban untuk mendidik anak-anak mereka. Sekolah dan juga pesantren, hanyalah sebagai alat bantu bagi orang tua untuk memberika pendidikan ke anak-anak mereka. Dan yang harus dipahami adalah, pendidika yang paling utama dan yang paling awal  bagi seorang anak adalah pendidikan dari kedua orang tuanya.
Memang, banyak orang yang meletakkan harapan yang tinggi bagi pendidikan di dalam pesantren. Saking tingginya, banyak yang mudah kecewa apabila anak didik pesantren itu tidak seperti yang diharapkan. Dan kekecewaan itu lebih besar ketimbang kegagalan sekolah umum dalam memberikan pendidikan ke murid didiknya.
Pesantren sama seperti sekolah umum biasanya. Hanya sebagai alat bantu, dan hanya berisi manusia-manusia biasa. Bukan malaikat. Hanya sistemnya sajayang berbeda. 
Semoga saja ada orang tua yang mengatakan kepada anaknya bahwa kalau anaknya behasil meraih ranking satu, maka akan diizinkan untuk sekolah di pesantren. Ataua, kalau seorang anak sudah bisa mencuci baju sendiri, maka ia akan disekolahkan di pesantren. Wassalam.

Comments

Leave a Reply

Total Pageviews

About

Admin. Powered by Blogger.