67 tahun sudah Indonesia merdeka. Diawali dengan perjuangan melawan para penjajah yang silih berganti menjarah bangsa ini. Hingga kemudian momen proklamasi yang dibacakan oleh Ir. Soekarno, menandai terbentuknya negara baru bernama Indoensia.
Perjuangan bangsa belum berhenti. Selepas proklamasi pun, para penjajah yang serakah itu tidak mau menerima kenyataan bangsa ini merdeka dan juga melepaskan potensi alam Indonesia yang melimpah ruah ini. Perang pun silih berganti dirasakan oleh rakyat Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih. Dan untuk itu, banyak sudah nyawa yang gugur.
Setelah perjuangan melawan penjajah, hal yang paling penting untuk dilakukan adalah mencari identitas bangsa ini. Mau dibawa kemanakah negara yang baru terbentuk ini. Mau diajak ke sisi manakah semua rakyat ini dalam percaturan global.
Hal ini sangat dipahami oleh para founding fathers bangsa ini. Yang kemudian setiap gagasan mereka akhirnya membentuk sebuah lima asas mendasar bagi sebuah bangsa. Yaitu negara ini berdasarkan atas ketuhanan YME, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan, keadilan dan kesejahteraan.
Sebuah rumusan yang terlihat indah dan sempurna. Hanya saja, dalam perjalanan sejarah bangsa ini, terjadi banyak lika-liku yang kemudian hanya menjadikan kelima asas yang dijadikan pondasi bangsa itu hilang, dan hanya teks yang tidak bernyawa.
Diawali di masa kepemimpinan Soekarno. Ketika itu, kebencian Soekarno terhadap barat sangat menjadi sekali. Wajar, sebab Barat telah menjajah Indonesia selama ratusan tahun. Dan ketika itu, muncul sebuah ideologi baru yang sangat digandrungi oleh sebangian negara yang baru merdeka, yaitu komunis atau sosialis.
Demikian halnya dengan Soekarno. Ia agaknya sangat tertarik dengan ideologi yang diawali oleh pemikiran Karl Marx ini, yang kemudian diimplemntasikan oleh Lenin dan diteruskan oleh Stalin dan juga Mao Tje Tung di Asia. Soekarno pun membangun hubungan yang mesra dengan Cina dan Soviet, dua negara adidaya yang menjadi mercusuar pemahaman komunis.
Hal itu juga berpengaruh pada pandangan politik Soekarno. Dalam kepemimpinannya, Soekarno menegaskan bahwa pola demokrasi yang diantu oleh Indonesia adalah Demokrasi Terpimpin. Sama halnya yang dilakukan oleh Stalin ketika memimpin Uni Soviet.
Begitu juga dalam ideologi bangsa, Soekarno mendambakan sebuah kehidupan harmonis, rukun sejahtera, kehidupa yang berdampingan antara orang-orang yang beragama dengan paham nasionalis dan komunis. Ideologi itu kemudian dinamakan Nasakom, dengan menjadi pandangan hidup bangsa ini di era kepemimpinan Soekarno.
Padahal, menyatukan paham orang yang bertuhan namun berbeda agama saja sudah sulit. Banyak konflik antar umat beragama yang terjadi di dunia ini. Apalagi bila harus membuat orang-orang komunis yang dinilai atheis itu hidup berdampingan dengan orang-orang yang beragama.
Dalam kehidupan politik pun, Soekarno menerjemahkan pandangannya. Ia mengizinkan sebuah partai politik yang berhaluan komunis, meskipun bertabrakan langsung dengan lima asas yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Meskipun pada tahun 1948, PKI pernah memberontak di Madiun yang dipimpin oleh Muso.
Konflik sosial terjadi dimana-mana. Baik antara orang nasionalis, agama dan komunis. Dan puncaknya terjadi pada peristiwa G 30 S/PKI. Ketika itu PKI disinyalir ingin kudeta, mengganti Pancasila sebagai asas ideologi bangsa dengan pemahaman palu arit. Dan juga berniat mempersenjatai para buruh dan tani, dan diangkat sebagai angkatan kelima. Bisa dibayangkan bagaimana chaosny bangsa ini bila rakyat kecil dipersenjatai seenaknya.
Pemeberontakan itu pun berhasil dipadamkan, dan Soeharto mendadak muncul sebagai pahlawan. Para Jenderal yang diculik dan dibunuh oleh PKI diangkat sebagai pahlawan revolusi. Dan semenjak itu, kekuasaan Soekarno berangsur hilang digantikan oleh Soeharto.
Di era kepemimpinan Soekarno, hal yang paling menonjol selain paham Nasakom adalah juga konsistensinya dalam melawan dan anti Barat. Nasionalisme yang dimiliki Soekarno sangat baik. Ia sangat menjaga harga diri bangsa ini. Tidak peduli apa yang dikatakan oleh bangsa luar mengenai dirinya. Sehingga, salah satu aksi Soekarno adalah menasionalisasi perusahaan asing dengan jargon go to hell with your aid.
Di era Soeharto, identitas bangsa yang dibangun Soekarno berganti menjadi yang lain.

Leave a Reply