Menimbang Kredibilitas Media di Mata Umat Islam

Tanggal 3 Oktober 2012, warga Poso geram lantaran pemberitaan Jurnalis Metro Tv yang menyebutkan adanya baku tembak antara Densus 88 dengan Khalid yang ditembak mati oleh Densus 88. Padahal, sebagaimana yang dilihat oleh warga, bahwa Khalid ditembak sampai mati oleh Densus 88 tanpa perlawanan sama sekali. Khalid pun, tidak membawa senjata apapun. Kejadian
itu berlangsung selepas Khalid pulang dari masjid setelah menjalankan ibadah shalat subuh.
Jurnalis Metro Tv itu kemudian ditahan oleh warga, dan nyaris dihakimi oleh massa lantaran tidak jujur dalam memberitakan kejadian yang sebenarnya. Kamera dan mikrofon saja yang hancur dirusak oleh warga yang keburu tersulut emosinya kaena ketidak-jujuran dari pihak Metro tv. Sampai saat ini, sejauh yang saya ketahui, sampai sekarang, tidak ada klarifikasi perihal tersebut dari pihak Metro Tv.
Sebelumnya, Metro Tv juga berulah, dengan menyebutkan bahwa Rohis merupakan sarang teroris. Klaim ini kemudian disambut oleh reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat yang merasa pemberitaan Metro Tv terlalu mengada-ada.Pasalnya, justru Rohis selama ini mampu membentuk pribadi-pribadi Indonesia yang berkualitas, yang membangun negeri dengan segudang prestasi yang mereka raih.
 Meski kemudian akhirnya Metro Tv sudah meminta maaf dan menjelaskan maksudnya, akan tetapi apa yang sudah dikeluarkan tidak bisa dijilat lagi. Dan Metro Tv sejauh ini belum membuat program yang membersihkan nama institusi Rohis yang telah mereka coreng. 
Kejadian terbaru adalah, majalah Tempo yang menggembar-gemborkan kematian Putri yang diduga bunuh diri lantaran depresi dengan kondisi dirinya yang dikatakan sebagai pelacur. Tempo secara tegas, lugas, dan simplifikasi permasalahan, bahwa kematian Putri adalah tidak lain lantaran penerapan hukum syariah di Bumi Nangroe Aceh Darussalam.
Tempo menyajikan berita kematian Putri dengan durasi sebanyak 5 halaman. Empat halaman berita, dan satu halaman tulisan pinggir Goenawan Mohammad. Secara panjang lebar, redaktur Tempo itu menjelaskan bahwa penerapan syariat Islam tidak berkolerasi positif terhadap pemberantasan kemiskinan dan lain-lain. Agaknya Goenawan Mohammad lupa, bahwa undang-undang sekuler yang menurutnya lebih manusiawi itupun sampai sekarang tidak mampu mengentaskan bangsa Indonesia dari kemiskinan. Bahkan, kecenderungan kriminalitas kian meningkat. Kejahatan dengan berbagai modus dan cara tumbuh dimana-mana. 
Tiga kasus di atas, merupakan sekelumit 'kecurangan' media yang terjadi selama puluhan tahun di Indonesia. Kecurangan yang uniknya, terjadi hanya saat berkenaan dengan kondisi kaum muslimin, dan memojokkan kaum muslimin. Seharusnya, dalam berbagai aspek permasalahan, media harus tetap netral dan adil. Tidak berat sebelah.
Hal ini penting, demi menjaga kredibilitas media itu sendiri, dan juga demi mewujudkan cita-cita bersama untuk menciptakan manusia cerdas dan berwawasan luas. Bisa jadi, konflik yang banyak terjadi merupakan andil dari ulah pemberitaan media massa. Tidak menutup kemungkinan, media massa turut bertanggun-jawab terhadap kekacauan yang kerap terjadi belakangan ini. Ingat, saya katakan bisa jadi.
Sebijaknya, media massa itu menuruti asas paling mendasar dalam menjalankan tugasnya, yaitu adil atau to cover both side. Menyampaikan kabar berita dari dua sisi sekaligus. Tidak berat sebelah, dan jujur.  Tak perlu menutupi kebenaran, dan juga tidak perlu mengada-ada dalam memberitakan. Namun agaknya, hal itu menjadi semakin sulit belakangan ini. Dan lebih menjadi sebuah utopia belaka. Terlebih bagi umat islam secara umum.
kebebasan pers adalah kebebasan yang bertanggung-jawab. Bukanlah kebebasan ala barbar. Sekian.


  

Comments

Leave a Reply

Total Pageviews

About

Admin. Powered by Blogger.