Well, sudah sebulan lebih duet terpilih Jokowi-Ahok memimpin Jakarta. Baik Jokowi maupun Ahok memiliki tugas masing-masing. Jokowi mengambil bagian untuk turun ke lapangan, atau yang belakangan populer dengan istilah blusukan. Hampir di setiap acar blusukan Jokowi ini, disambut oleh warga kampung sekitar yang dikunjunginya. Warga berbondong-bondong menyambut Gubernur mereka yang baru. Beberapa bahkan terharu, lantaran baru kali itulah ada Bapak Gubernur yang mau turun langsung melihat kondisi mereka.
Selama sebulan pula, kabar mengenai Jokowi menjadi target utama media. Tidak sedikit media yang rela mengikuti blusukannya Jokowi. Bagi mereka, ini juga mungkin adalah hal yang baru. Pemimpin turun ke lapangan
tidak hanya ketika kampanye saja.Dengan sering melihat kondisi lapangan, maka akan diketahui apa pokok permasalahan yang dihadapi oleh warga sesungguhnya. Selain itu, juga bisa mendekatkan hati antara pemimpin dengan yang dipimpin. Bila hati sudah merasa nyaman, maka segalanya akan menjadi lebih mudah. Begitulah kira-kira filosofinya.
Sedangkan Ahok, agaknya lebih difungsikan untuk mengurus birokrasi yang ada di jajaran Pemprov DKI. Ahok lebih terlihat dalam rapat-rapat yang diadakan untuk menjalankan program Pemprov. Ahok pun tidak kalah sangar. Ia secara tegas berkali-kali mengatakan bahwa ia tidak segan-segan memecat pegawai yang bermain-main dengan dia. Bermain-main dengan amanah yang diberikan untu melayani rakyat. Saking sangarnya, Jokowi sempat mengaku merasa ngeri terhadap apa yang disampaikan oleh Ahok.
Sebagai contoh, Ahok segera mencopot kepala sekolah MH. Thamrin setelah terbukti melakukan pungutan liar dengan nominal milyaran rupiah. Meski demikian, Ahok bersikap bijak dengan tetap menjaga nama baiknya dengan mengatakan bahwa Kepala Sekolah tersebut sudah terlalu lama menjabat.
Permasalahan negeri ini sangat kompleks. Dan birokrasi menjadi bagian permasalahan tersendiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ongkos birokrasi di Indonesia itu sangat boros. Sogokan ada dimana-mana. Korupsi telah mejadi darah daging, dan juga hampir semua birokrat yang seharunya melayani, malah memosisikan diri sebagai pihak yang harus dilayani.
Sampai disini, duet dan pembagian tugas antara Gubernur dengan Wagubnya berjalan seiring sejalan. Ada yang bertugas di lapangan, ada juga yang bertugas di lingkungan sistem. Sehingga, baik luar atau dalam bisa menjadi baik bersama-sama.
Masih cukup lama waktu yang terbentang hingga lima tahun mendatang. Semoga cukup untuk membawa kehidupan warga Ibukota menjadi lebih baik. Menciptakan kehidupan birkorasi yang manusiawi, dan juga Jakarta yang menentramkan. Selamat bekerja Bapak-bapak!
Horas!

Leave a Reply