Awalnya saya berharap bahwa di Pilgub DKI Jokowi akan bergandengan dengan salah satu calon dari PKS. Menurut saya, itu adalah sebuah kombinasi yang serasi. Jokowi yang sudah tenar dengan segenap prestasinya di Solo, dan juga PKS yang memiliki massa real, solid dan merupakan partai kedua terbesar di DKI. Saya yakin kombinasi ini akan sulit dilawan oleh banyak pihak. Sebagaimana di Pilgub DKI 2007 silam, bagaimana 20 partai sekaligus mengeroyok PKS, akan tetapi hasil akhir menunjukkan margin yang sangat tipis. Dan kemenangan ada di Kubu Foke.
Namun, harapan saya pupus. Jokowi malah digandeng dengan Ahok yang dicalonkan oleh Gerindra. Dan PKS mengubah strategi. Yang awalnya tadi mengusung Tri sebagai cawagub, melihat Jokowi yang tampil ke pentas, kemudian diubah dan diganti sosok Hidayat Nur Wahid yang memiliki karakteristik dan popularitas yang sudah dikenal oleh publik.
Ketika kalah dalam putaran pertama, dan HNW duduk di posisi ketiga setelah Foke, PKS menetapkan dukungannya secara resmi kepada Foke. Musuh mereka di Pilkada 2007 silam. Ini di luar perkiraan beberapa pihak termasuk saya, yang mengira bahwa PKS akan merapat ke kubu Jokowi sebagaimana ketika di Solo. Dengan demikian, perlawanan PKS terhadap Jokowi bukan main-main.
Kemudian, kiranya apakah alasan PKS untuk melawan Jokowi sebagai Cawagub DKI? Ada beberapa alasan. Yaitu:
- PKS yang mendukung Jokowi pada saat Pilkada di Solo 2010 silam, menginnginkan Jokowi tetap berada di Solo dan menyelesaikan masa baktinya di Solo. Hal ini dipertahankan PKS lantaran apabila Jokowi maju dalam Pilgub DKI, dan kemudian terpilih, maka secara otomatis jabatan walikota Solo akan digantikan oleh Fx. Rudi yang notabene nya adalah non muslim. Dan dalam banyak hal, soal kepemimpinan merupakan sesuatu yang sensitif bagi orang Islam.
- PKS memandang bahwa dengan digandengnya Ahok sebagai calon wakil gubernur, merupakan sebuah pertanda yang tidak baik. Pasalnya, lagi-lagi karena Ahok itu kristen. Dan akan menjadi berbahaya apabila kelak di kemudian hari, Jokowi lengser dan digantikan oleh Ahok. Dengan skenario yang sama persis seperti di Solo. Akan tetapi, hal itu menurut saya tidak akan terjadi pada lima tahun mendatang. Kemungkinan besar, hal itu bisa saja terjadi apabila di Pilgub 2017 Jokowi-Ahok mencalonkan diri kembali, kemudian terpilih kembali. Di saat itulah bisa saja Jokowi turun dari tahta DKI 1, untuk kemudian menjadi Calon wakil presiden.
- Sebagaimana yang dikatakn oleh Anis Matta, bahwa apa yang dilakukan oleh Jokowi dan Ahok, yang berhenti dari jabatan sebagai walikota dan anggota DPR sebelum habis masanya, adalah sebuah pembelajaran politik yang tidak baik. Beberapa pihak akan menilai sikap mereka sebagai sikap yang oportunis. Kebiasaan ini apabila mewabah di ruang birokrasi dan politik Tanah Air, akan menimbulkan ekses yang tidak baik, dan mengganggu stabilitas pemerintahan.
- PKS melihat, antara Jokowi dan Foke memiliki kans yang sama berbahayanya. Akan tetapi, dalam hal ini, PKS tetap beralih kepada Foke. Dan itu adalah pilihan terbaik di antara pilihan yang paling buruk. Bagi PKS, bukan Jokowinya yang berbahaya, namun mereka yang bermain di belakang Jokowi-lah yang harus dibendung langkahnya. Pasalnya, Jokowi disinyalir dekat dengan irang-orang Yahudi. Salah satu indikatornya adalah, Jokowi aktif dalam organisasi nirlaba buatan Yahudi: Rotary Club. Juga, dukungan seorang Edward Suryajaya, yang konon adalah seorang Yahudi.
Leave a Reply