Pilgub DKI: Nachrowi Ramli

Nahcrowi Ramli merupakan putra Betawi asli. Pria kelahiran Jakarta tanggal 12 Juli 1951, ini mnghabiskan karirya di dunia militer Angkatan Darat. Jabatan terakhirya sebelum pensiun adalah sebagai Kepala Sandi Negara 2002-2008. Ia lahir dan dibesarkan di kawasan Kramat Sentiong, Jakarta Pusat.
Selepas dari karir militernya, Nachrowi Ramli yang akrab disapa dengan Nara, kemudian aktif di dunia politik bersama Partai Demokrat. Ia kemudian terpilih secara aklamasi untuk menjadi Ketua DPD DKI Jakarta Partai Demokrat. Prestasi Nara kemudian adalah berhasil mendisiplinkan anggota partai yang akhirnya berhasil memenangkan suara pemilih Jakarta di Pemilu 2009 silam,
menggeser PKS ke peringkat kedua. 
Berikut adalah riwayat pekerjaan dari Nachrowi Ramli:
  1. Perwira intelijen di lingkungan TNI AD, 1974 – 1986
  2. Atase KBRI Mesir, 1986 – 1992
  3. Direktur "D". Deputi II Lembaga Sandi Negara RI, 1995
  4. Deputi Bidang Pamsan & Komlek Lembaga Sandi Negara RI, 1998.
  5. Deputi Bidang Keamanan Lembaga Sandi Negara RI, 1999
  6. Sekretaris Lembaga Sandi Negara RI, 2001
  7. Kepala Lembaga Sandi Negara RI, 2002 - 2008
Pedoman hidupnya relatif unik, yaitu berani tidak dikenal. Mungkin karena kiprahnya di dinas intelijen negara, yang mengharuskan kerahasiaan jati diri turut menjadikannya sebagai sosok yang tidak ingin dikenal banyak. Alhasil, ketika namanya dicanangkan menjadi pasangan Foke, tidak banyak masyarakat bagaimana kiprah dan prestasinya, dan bahkan tidak banyak yang tahu apa dan siapa Nara itu.
Awalnya, Nara diajukan oleh Partai Demokrat sebagai calon yang diusung Demokrat dalam pemilihan DKI 1. Hal itu dicanangkan oleh Anas Urbaningrum secara langsung dihadapan ratusan simpatisan dan kader Partai Demokrat. Akan tetapi, lantaran dinamika internal Partai Demokrat, posisi Nara digusur oleh Foke yang konon mendapat dukungan dari Istana.
Nara adalah satu-satunya calon yang terlahir dari suku Betawi. Sedangkan Foke, hanya terlahir di Jakarta, akan tetapi kedua orang tuanya berasal dari Malang. Sehingga, bisa dikatakan akar keluarga Foke bukanlah dari Betawi murni.  
Dalam Pemilukada kali ini, bersama pasangan gubernurnya, Nara bertekad untuk menata Jakarta. Ia merasa, sebagai putra Betawi, ia mampu untuk menyelesaikan dan menata Jakarta menjadi lebih baik. Sebab, Betawi dan Jakarta tidaklah bisa dipisahkan. Dalam penggalangan suaranya, Nara banyak menggandeng komunitas Betawi yang dikenalnya. Seperti Bamus (Badan Musyawarah) Betawi dan juga Forkabi (Forum Komunikasi Anak Betawi).
Apakah kebetawian Nara bisa menjadikannya untuk duduk sebagai DKI 2, lagi-lagi masih harus kita tunggu bersama pada tanggal 20 september 2012 nanti. Merdeka! 

Comments

Leave a Reply

Total Pageviews

About

Admin. Powered by Blogger.