Alhamdulillah, lebaran tahun ini bareng-bareng. Kemenag menyatakan bahwa 1 Syawal 1433 H, atau Lebaran tahun ini jatuh pada tanggal 19 Agustus 2012. Sesuai dengan perhitungan yang dilakukan oleh Muhammadiyah jauh-jauh hari dengan metode Hisabnya. Entah sudah berapa lama kita sebagai umat islam di Indonesia tidak merasakan Idul Fitri bersama-sama, lantaran ada perbedaan dalam penentuan baik itu awal ramadhan maupun tanggal 1 syawalnya. Hal itu tidak hanya berlaku pada puasa ramdhan, akan tetapi juga pada penetapan tanggal 10 Dzulhijjah, penetapa kapankah puasa Arafah bisa dilaksanakan.
Awal-awal penetapan tanggal 1 ramadhan menimbulkan perbedaan di kalangan kaum muslimin. Ditambah kondisi mendung yang meliput di hampir titik ru'yatil
hilal di Indonesia. Muhammadiyah yang konsisten menggunakan metode hisab, sudah menetapkan bahwa tanggal 1 ramadhan jatuh pada tanggal 20 Juli dan Lebaran jatuh pada tanggal 19 Agustus. Perhitungan itu tepat.
Di tempat lain, meskipun suasana mendung, di setiap titik ru'yatul hilal dilakukan pemantauan oleh berbagai kalangan dari eberapa elemen kaum muslimin. Di Cakung, ada beberapa orang yang mengaku telah bisa melihat hilal. Hilal sudah muncul, dan ia juga sudah disumpah oleh hakim setempat. Ditambah lagi, di belahan bumi yang lain, seperti di Mesir dan Arab Saudi, sudah menetapkan bahwa tanggal 1 ramadhan jatuh pada tanggal 20 Juli. Dan ini, sesuai dengan perhitungan Muhammdiyah.
Sedangkan pemerintah mengadakan sidang isbat untuk menetapkan kapankah jatuhnya tanggal 1 ramadhan. Saya sebenarnya rada gemes juga ketika mennton sidang isbat berlangsung. Di sebuah sesi acara tersebut, ada seseorang yang mengatakan bahwa ia tidak mempercayai orang-orang yang mengaku telah melihat hilal dan juga telah disumpah, sesuai dengan syarat dan ketentuan yang tertera di dalam hadits Rasulullah SAW itu.
Kembali ke sidang isbat, orang itu tadi mengatakan bahwa tidak mungkin hilal terlihat. Jakarta diliputi mendung di hampir semua titik. Dan dengan peralatan dan cara yang canggih saja tidak ada yang bisa melihat hilal, bagaimana mungkin dengan metode yang sederhana hilal bisa terlihat?
Sejauh yang saya ketahui bahwa, metode yang digunakan oleh beberapa kaum muslimin di Cakung untuk melihat hilal adalah dengan menggungakan metode Sulami. Tidak menggunakan teropong atau pun mikroskop :). Akan tetapi, menggunakan triplek yang diletakkan sejajar mata-mata air di depan mata, maka di ditu aka terlihat titik hilal akan terlihat di antara mendung. Maaf, saya belum bisa menjelaskan secara rinci tentang bagaimana triknya. Mungkin ada dari kaum muslimin yang memahami dan bisa di share di sini.
Apabila menggunakan teropong, tidak akan bisa terlihat. Lantaran kondisi itumendug, dan teropng dalam cara kerja lensaya adalah memperbesar fokus yang digunakan. Sehingga, hilal yang kecil itu tidak bisa terlihat lantaran tertutup mendung yang diperbesar penampakannya oleh teropong.
Kembali lagi ke sidang isbat, sudah sepantasnya seorang muslim menghormati muslim yang lain. Sudah seharusnya bahwa seorang muslim itu menjaga hak dan kewajibannya terhadap muslim yang lain. Dengan mengatakan bahwa ia tidak percaya terhadap kesaksian di bawah sumpah seorang muslim, maka ia telahmeninggalkan kewajibannya untuk menghormati kaum muslimin.
Sudahlah, hal itu telah terjadi. Biarkan berlalu. Kini, Idul Fitri kita rayakan bersama-sama. Taqoballahu Minna wa minkum, shiamana wa shiamakum. Semoga ibadah puasa kita di bulan ramadhan diterima oleh Allah SWT.
Sudah dulu ya, saya mau mandi terus mau shalat Ied dulu. Wasaalamu'alaikum wr. wb.

Leave a Reply